KISAH HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW
- Henrizal Saidi Harahap
- Artikel
- Hits: 40
Oleh: Henrizal Saidi Hrp.
Hijrah Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Yatsrib/Madinah (622 M) merupakan peristiwa yang sangat penting dan menjadi tonggak sejarah paling monumental dalam Islam, serta menjadi awal mula penanggalan Hijriah. Peristiwa ini bukan hanya sekadar perpindahan letak geografis semata, melainkan menjadi titik balik yang mengubah Islam dari kelompok minoritas tertindas menjadi masyarakat muslim yang berdaulat, serta menjadi awal berdirinya peradaban Islam dan penyebarannya ke seluruh dunia.
Dakwah Nabi Muhammad saw. selama 13 tahun di Mekah belum membuahkan hasil yang signifikan. Beliau dan para sahabatnya bahkan mengalami tekanan, intimidasi, penyiksaan yang luar biasa, dan pemboikotan dari kafir Quraisy. Hingga tibalah pertemuan sidang parlemen (Darun Nadwah) yang dihadiri semua perwakilan kabilah Quraisy. Mereka menyepakati usulan Abu Jahal, yakni setiap kabilah mengutus pemuda yang tangguh dengan pedang terhunus untuk membunuh Nabi Muhammad saw. secara bersama-sama. Dengan demikian, kalau hal itu terjadi, maka keluarga Rasulullah (Bani Abdu Manaf) tidak akan mampu memerangi semua kabilah.
Ketika keputusan keji untuk membunuh Nabi Muhammad saw. telah diambil, Malaikat Jibril turun membawa wahyu yang memberitahukan rencana persekongkolan jahat tersebut, serta mengizinkan dan memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk hijrah. "Malam ini, engkau jangan berbaring di tempat tidur yang biasanya," (Ibnu Hisyam, I/482). Allah juga berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah." (QS. Al-Baqarah: 218).
Di tengah kegelapan malam tanggal 27 Safar, 11 orang pemuka Quraisy dari tiap kabilah sudah mengintai dan mengelilingi rumah Rasulullah untuk menyergapnya saat terbangun. Namun, dengan izin Allah Swt., Nabi Muhammad saw. dapat keluar rumah dan melewati mereka tanpa diketahui seorang pun, setelah sebelumnya memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Rasulullah dengan menggunakan selimut burdah hijau.
Pada malam itu, Rasulullah hijrah bersama Abu Bakar, keluar secepatnya dari Mekah sebelum terbit fajar dengan memilih jalan yang berlawanan arah, yakni melalui rute selatan. Setelah menempuh perjalanan 5 mil, sampailah mereka di sebuah gua yang berada di bukit yang tinggi, terjal, berbatu, dan sulit didaki yang membuat kaki Rasulullah lecet, yakni Gua Tsur.
Setelah kafir Quraisy mengetahui Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar lolos dari kepungan, mereka sangat marah dan panik hingga membuat sayembara: bagi siapa saja yang berhasil menangkap Nabi Muhammad baik dalam keadaan hidup maupun mati, maka akan mendapatkan hadiah 100 ekor unta merah. Mendengar hadiah yang fantastis itu, banyak pemuda dan tokoh kafir Quraisy yang tergiur dan berlomba-lomba untuk memenangkannya, di antaranya Suraqah bin Malik.
Selama masa pelarian dan persembunyian 3 hari 3 malam di Gua Tsur, Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar mendapatkan bantuan kiriman makanan dari Asma binti Abu Bakar. Selain itu, Abdullah bin Abu Bakar bertindak sebagai informan yang memantau situasi di Mekah, Amir bin Fuhairah menggembalakan kambing di sekitar gua untuk menghilangkan jejak kaki Abdullah dan Asma, serta Abdullah bin Uraiqith bertugas sebagai penunjuk jalan ke Madinah. Dengan izin Allah, pintu gua juga tertutup oleh sarang laba-laba saat orang kafir Quraisy hendak masuk ke dalamnya.
Setelah keadaan dirasa aman, Nabi Muhammad dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan pada 8 Rabiul Awal menuju Madinah. Sebelumnya, mereka berhenti terlebih dahulu untuk beristirahat selama 4 hari di Desa Quba yang jaraknya 5 km dari Madinah, dan membangun masjid pertama yang didirikan atas dasar ketakwaan (QS. At-Taubah: 108).
Pada hari Jumat, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan menuju Madinah dan disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh penduduk, baik kaum Muhajirin maupun Anshar, dengan lantunan syair Thala’al Badru 'Alaina:
Bulan purnama telah menyinari kita
Dari Tsaniyyatul Wada' Kita wajib bersyukur
Selama ada yang berdoa kepada Allah
Wahai orang yang diutus kepada kami
Engkau telah membawa perkara yang ditaati


